Tuhankah Yesus?

By: David Servetus in Menanggapi Kristen

Banyak sosok di dunia ini yang dianggap sebagai ilah, tuhan yang disembah. Benarkah mereka semua adalah ilah? Atau hanya ada satu Ilah yang benar? Kali ini kita kaji tentang Yesus. Apakah Yesus itu adalah ilah yang benar? Benarkah bahwa Yesus itu adalah ilah yang esa?

Yesus akan tetap dapat mereka akui sebagai Ilah, kecuali ada hal-hal yang membatalkannya. Misalnya, dalam suatu kesempatan, Yesus menolak dirinya disebut sebagai ilah yang esa.

Mengapa kau sebut aku sebagai yang baik? Tidak ada yang baik kecuali satu, yaitu Allah. (Lukas 18:19)

Dalam ayat itu, Yesus menegaskan bahwa tidak ada yang baik kecuali Allah. Maka jangan sebut Yesus sebagai yang baik, karena Yesus bukanlah Allah. Ini sungguh jelas dan mudah dipahami.

Ada indikasi bahwa orang-orang di masa Yesus membedakan Yesus dan Allah. Yesus dan Allah bukanlah satu entitas, bukan satu pribadi, bukan satu substansi, atau apa pun namanya.

Yesus bertambah besar hikmahnya dan bertambah dewasa, serta makin disukai Allah dan manusia. (Lukas 2:52)

Manusia itu banyak. Manusia yang satu bisa menyukai manusia lainnya. Tetapi Allah, mungkinkah Dia menyukai Allah yang lainnya? Agak sulit untuk mengatakan bahwa dalam alam pemikirannya, Lukas menyangka bahwa Yesus adalah Allah. Adalah konyol jika Anda berkata ‘tidak ada yang mustahil bagi Allah’ dalam hal ini. Lukas jelas menganggap bahwa Yesus bukanlah Allah. Mungkin hanya Paulus yang beranggapan bahwa Yesus adalah Tuhan seperti dalam Injil gnostiknya.

Aku datang bukan atas kehendakku sendiri, melainkan Dialah yang mengutusku. (Yohanes 8:42)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Yesus datang bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi atas kehendak Allah. Jika Yesus adalah Allah, dan Yesus datang atas kehendak Allah, harusnya dia mengaku bahwa dia datang atas kehendaknya sendiri, karena dirinya adalah Allah. Tetapi karena Yesus bukanlah Allah, dan Yohanes tahu itu, maka Yesus berkata, “Aku datang bukan atas kehendakku sendiri. Tetapi Allah itulah yang berkehendak mengutusku.” Yesus adalah utusan atau rasul Allah, bukan Allah itu sendiri.

Dalam ayat lain, Yesus mengaku sama dengan Yohanes pembaptis. Sebagaimana Yohanes datang dari Allah sebagai utusan Allah, begitu juga Yesus datang dari Allah sebagai utusan Allah. Sebagai utusan Allah, Yesus mempunyai kuasa/wewenang yang sama dengan Yohanes, dan tidak sama dengan Allah. Allah lebih besar dan lebih berkuasa daripada Yesus. Allah bisa menyuruh Yesus, karena Yesus memang pesuruh Allah. Tetapi Yesus hanya boleh meminta kepada Allah, dan bukan menyuruh Allah.

Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadanya untuk memberi kekuatan kepadanya. (Lukas 22:43)

Malaikat menguatkan Yesus. Tuhankah dia yang memerlukan makhluqnya? Begitu bodohkah Lukas hingga menganggap Yesus sebagai Allah? Hanya orang pagan yang menganggap Yesus sebagai Tuhan.

Semua Nabi Allah paham, bahwa Allah tidak bertuhan. Karena Allah itulah Tuhan. Allah tidak menyembah sesuatu apa pun. Allah tidak bersujud kepada sesuatu. Tetapi Yesus mempunyai Allah, yang kepada Allah dia bersujud dan berdoa.

Aku akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu. (Yohanes 20: 17)

Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (Matius 12:29)

Yesus berkata, “Ilahku dan Ilahmu,” atau “Ilah kita.” Ya, Yesus menyembah sesuatu. Sedangkan Tuhan tidak menyembah sesuatu. Maka Yesus bukan Tuhan.

Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? (Matius 27:46)

Dia memanggil Allahnya. Dia memanggil yang disembahnya. Dia memanggil Allah Israel, Allah nenek moyangnya. Maka Yesus bukanlah Tuhan.

Pada waktu itu, pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa. Semalam penuh ia berdoa kepada Allah. (Lukas 6:12)

Tuhankah dia yang berdoa kepada Allahnya? Yesus adalah hamba Allah, bukan Tuhan.

Sepanjang hidupnya di dunia, ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang esa, yang sanggup menyelamatkannya dari maut, dan karena kesalehannya, ia telah didengarkan. (Ibrani 6:7)

Ayat yang menarik. Sepanjang hidupnya, Yesus menyembah Allah setulus hati, tanpa menyekutukan Allah. Yesus tidak pernah memohon kepada ilah-ilah palsu. Dia hanya memohon dan mengadukan perihalnya kepada Allah saja. Yesus, hamba Allah yang shalih.
Yesus yaqin bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkannya. Dan Allah menjawab doa Yesus. Allah menyelamatkannya. Sungguh berbeda dengan Injil gnostik Paulus. Yesus diselamatkan Allah dari maut. Yesus belum mati. Maka sia-sialah segala perbuatan orang-orang Kristen. Sia-sialah segala doktrin mereka. Karena nyatanya, Allah menyelamatkan Yesus. Yesus tidak mati di tiang salib. Gugurlah segala pengakuan Paulus dan para pengikutnya yang mengatakan bahwa Yesus mati di tiang salib untuk menebus dosa mereka.

Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. (Markus 5:30-32)

Walau Yesus telah memperlihatkan mu’jizat, tetapi segala mu’jizat itu bukan dari dirinya sendiri, melainkan anugerah dari Allah. Dan tetap saja, Yesus bukanlah Yang Mahatahu tanpa diberi-tahu. Yesus bukanlah Tuhan.

Akhirnya, Yesus yang mengetahui dirinya adalah utusan Allah pun mengakui bahwa tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah yang esa, dan mengakui bahwa dirinya adalah hamba dan utusan Allah. Yesus bukanlah Tuhan.

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)

Sikap Habib Munzir terhadap Demo 20 April 2008

By: David Servetus in Fikrah

ImageImageAssalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, Bismillahirrahmanirrahiim
Alhamdulillahirabbil Alamin,
Wasshalatu wassalamu ala sayyidil mursalin,
Wa ala alihi washahbihi ajmaiin,

Semoga kebahagiaan dan kesejukan jiwa selalu menerangi hari hari saudaraku dimanapun kalian berasa, Wahai saudara saudaraku seperjuangan, Wahai para Pembela Sayyidina Muhammad, Wahai yg berbakti kepada Muhammad Rasulullah, Dengan ini saya, Hamba Allah yg hina, Khadim Majelis Rasulullah saw, Munzir bin Fuad Almusawa, menghimbau kepada saudara saudaraku sekalian, untuk menahan diri dari berunjuk rasa menuntut pemerintah membubarkan Ahmadiyah. Sungguh Mirza Ghulam Ahmad adalah pendusta besar, kita harus memerangi mereka dan menghabiskan mereka tanpa bekas, Kita marah dan tak akan diam melihat Nabi nabi Palsu ini dipuja dan bahkan para pengikutnya bebas berkeliaran di tanah muslimin, Namun saudara saudaraku, lihatlah cara terbaik untuk menghabisi mereka, sungguh bukan dengan berdemo, karena Negara kita ini telah terjebak system oleh Negara Negara Kuffar, hutang kita trilyunan pada mereka, seluruh undang undang kita telah tergadai demi mengurangi bunga atas hutang hutang kita, negara kita tak berdaya berbuat apa apa untuk menentang mereka,

Ketahuilah bahwa Negara Negara musuh islam sangat melindungi Ahmadiyah, mereka senang dengan keberadaan Nabi palsu yg bisa merusak islam, mereka dilindungi di Negara Negara kuffar, maka penuntutan besar besaran pada Negara untuk melarang keberadaan mereka hanyalah akan membuat Negara Negara kuffar itu memaksa Negara kita untuk menindas kelompok anti Ahmadiyah, mereka akan terus menambah dana untuk perkembangan Ahmadiyah, mereka akan terus mendesak pemerintah RI untuk tidak melarang Ahmadiyyah, mereka akan terus menambah kekuatan Ahmadiyah, mereka akan semakin punya alasan menghancurkan kekuatan islam dinegeri kita dengan dalih pemberantasan teroris, kenapa?, Karena muslimin berontak dan marah pada pemerintah yg terkesan lamban menentang Ahmadiyah, pemerintah akan terdesak dan balik menentang gerakan ini karena tekanan dari para Juragan Piutang di Luar negeri, maka musuh musuh islam akan terbahak bahak melihat gerakan muslimin saling hantam dg pemerintahnya sendiri..

Jika muslimin keras dan kuat, maka mereka akan masuk ke negeri ini dengan kekuatan militer dengan alasan pemberantasan teroris, majelis majelis akan diawasi, pesantren pesantren akan dituduh sebagai tempat penyimpanan senjata, gerakan dakwah pemuda akan dipersulit, para kyai dan ulama akan terus di interogasi, disadap hp nya, dipersulit izin dakwahnya, dan terus dibatasi ruang geraknya, dengan alasan : pemberantasan teroris..!

Ingatlah…, ini adalah langkah indah bagi mereka untuk lebih leluasa menghantam gerakan muslimin.. bertahanlah pada shaff mu saudara saudaraku, kita benahi masyarakat pelahan lahan, Ahmadiyyah akan hilang sendiri jika tak ada pengikutnya, dan jika Ahmadiyyah ditutup maka akan muncul 1000 nabi palsu lagi jika masyarakat tak dibenahi.. maka pembenahan masyarakat adalah ujung tombak keberhasilan kita, Tahan Emosi kalian, kalahkan musuh kita dengan langkah yg pasti dan jelas..

Dengan ini, saya selaku Khadim Majelis Rasulullah saw, Munzir Almusawa melarang seluruh Jamaah Majelis Rasulullah saw untuk turut berunjuk rasa pada Ahad 20 April 2008 mendatang, Demikianlah langkah Guru Mulia kita, Alhafidh Al Musnid Alhabib Umar bin Hafidh yg melarang segala bentuk Unjuk rasa, kita adalah satria pembela Rasul saw dengan taktik yg suci, kita bukan pengumbar emosi, kita adalah Laskar Muhammad Rasulullah saw,

Satukan jiwamu dengan Guru Mulia kita, satukan langkahmu dengan langkah Guru Mulia kita, langkah beliau adalah langkah gurunya, langkah gurunya adalah langkah guru guru mulianya, demikianlah kesemua mereka dalam satu langkah dengan langkah Rasulullah saw. Jangan palingkan langkahmu dari langkah mereka wahai saudaraku.

Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa
(majelisrasulullah.org)

Perjanjian Allah dengan Ibrahim

By: David Servetus in Menanggapi Kristen

Tuhan telah berjanji kepada Ibrahim sebelum Ibrahim mempunyai keturunan. Dalam kitab Kejadian 12:2-3 dikatakan:
Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Dari pernikahannya dengan Sarah, Nabi Ibrahim belum juga dikaruniai anak hingga lanjut usianya. Kemudian Sarah memberikan budaknya kepada Ibrahim untuk dijadikan istri, namanya Hajar. Lalu Hajar pun mengandung dan melahirkan anak. Anak itu diberi nama Ismail, sesuai yang dikatakan malaikat kepadanya, yang berarti Allah Mendengar. Allah Mendengar doa Ibrahim agar dikaruniai keturunan yang akan meneruskan da’wahnya. Dan Allah berjanji akan memberinya keturunan yang akan menjadi bangsa yang besar. Janji Allah itu tergenapi dengan lahirnya Ismail.

Maka jelaslah, bahwa Ismail adalah anak yang dinubuatkan dan akan menurunkan suatu bangsa yang besar. Dalam kitab Kejadian 21:20 dikatakan bahwa Tuhan menyertai anak itu. Ismail adalah anak sulung Ibrahim yang sangat penting. Ini sesuai dengan Alkitab. Dalam tradisi Ibrani, anak sulung mempunyai porsi dua kali lipat dalam hal kehormatan dan juga warisan (Kel. 21:15-17), dan hak tersebut tidak bisa diubah oleh status Ibunya. Anak sulung merupakan simbol kekuatan ayahnya.

Selama 14 tahun, Ismail menjadi anak tunggal Ibrahim. Kemudian, isteri pertama Ibrahim, Sarah, melahirkan anak, Ishak (Kej. 21:1-5).

Nasrani dan Yahudi beranggapan bahwa janji Tuhan hanya untuk Ishak dengan didasarkan pada beberapa ayat seperti Kejadian 17:21 dan 21:12. Muncullah pemikiran menarik. Mungkinkah penulis Kejadian memasukkan pernyataan seperti itu untuk keuntungan klannya sendiri sebagai bani Israil? Ketika dua ayat tadi diuji, yaitu dibandingkan dengan ayat-ayat lain dari kitab yang sama, menjadi jelaslah bahwa Ismail juga termasuk dalam perjanjian itu. Perjanjian itu dibuat sebelum Ibrahim mempunyai satu anak pun. Dan perjanjian itu disinggung kembali setelah Ismail lahir dalam Kejadian 17:4. Lebih dari itu, Ismail juga diberkati dengan istimewa dan tentunya diikutkan dalam janji Tuhan. Misalnya dalam Kejadian 21:13 dikatakan:
“Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena ia pun anakmu.”

Janji di atas dikonfirmasi ulang pada beberapa ayat berikutnya:

“Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” (Kejadian 21:18)
Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.” (Kejadian 21:20)

Ketika Tuhan bicara tentang kebesaran, hal itu tidak selalu berhubungan dengan jumlah. Kehebatan di sini bisa ditemukan dalam keimanan, warisan ruhaniyah dan kepemimpinan religius.

Hal-hal yang juga mengherankan adalah mengapa menurut nasrani dan yahudi hanya satu anak saja yang dimaksud dalam perjanjian? Mengapa tidak keduanya? Keadilan macam apa yang menghapus hak anak sulung hanya untuk menyenangkan keegoisan Sarah dan kecemburuannya? Apakah Sarah juga mendiktekan hasratnya kepada Tuhan?

Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (Kejadian 21:10)

Hal itu dinyatakan setelah Ishak disapih. Biasanya orang Ibrani disapih pada umur 2-3 tahun. Maka keesokan paginya, Abraham memberi kepada Hajar makanan dan sebuah kantong kulit berisi air untuk bekal di jalan. Ia meletakkan anak itu pada punggung Hajar, dan menyuruh wanita itu pergi. Lalu berangkatlah Hajar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Ketika air bekalnya habis, Hajar meletakkan anaknya di bawah semak, lalu duduk kira-kira seratus meter dari tempat itu. Katanya dalam hati, “Saya tidak tahan melihat anak saya mati.” Lalu menangislah anak itu. Allah mendengar suara Ismail, dan dari langit malaikat Allah berbicara kepada Hagar, katanya, “Apa yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut. Allah telah mendengar suara anakmu. Pergilah kepada anakmu, angkat dan tenangkanlah dia. Aku akan menjadikan keturunannya suatu bangsa yang besar. Lalu Allah membuat Hajar melihat dengan jelas, sehingga tampak olehnya sebuah sumur. Maka pergilah ia lalu mengisi kantong kulit itu dengan air, kemudian diberinya anaknya minum. Allah menyertai Ismael. Anak itu bertambah besar; ia menetap di padang gurun Paran (Arab), dan menjadi pemanah yang mahir dalam berburu. (Lihat Kejadian 21:14-20 BIS) Ismail mempunyai 12 anak, salah satu anaknya bernama Kedar.

Ismael mempunyai dua belas anak yang disebutkan di sini menurut urutan lahirnya: Nebayot, Kedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafis dan Kedma. Anak-anak itu menjadi bapak leluhur dua belas suku bangsa, dan desa dan perkemahan mereka disebut menurut nama-nama mereka. (Kejadian 25:13-16)

Dalam ayat-ayat di atas dijelaskan sekali lagi bahwa Allah mendengar Ismail. Sesuai namanya, Allah mendengar, Ismail. Jelaslah bahwa penamaan dari malaikat itu bukanlah suatu hal yang sembarangan, tetapi bagian dari rencana Tuhan. Dan dikatakan bahwa Allah menyertainya.

Kesamaan dengan versi Islam:
1. Ibrahim menerima janji dari Allah (QS. Al-Baqarah: 124)
2. Hajar dan Ismail pindah dari Palestina dan menetap di Paran (Arab).
3. Hajar berlari-lari mencari air untuk Ismail.
4. Tanpa diduga-duga, Hajar menemukan sumber air untuk dirinya dan Ismail.

Perbedaannya, dalam versi Islam dikatakan:

1. Hajar dan Ismail dipindahkan ke Paran atas perintah spesifik dari Allah kepada Ibrahim untuk suatu rencana Ilahiyah, bukan karena Sarah atau Ibrahim merasa sebal terhadap mereka. Bila waktunya tiba, kenabian akan dipindahkan dari bani Israil kepada bani Ismail. Hal ini sesuai dengan Matius 21:43. Tidak hanya itu, kelak, Ismail itulah yang akan membantu Nabi Ibrahim dalam membangun Ka’bah. Jelaslah bahwa Ismail ikut serta dalam perjanjian itu.

2. Hajar dan Ismail ditinggalkan di Arabia, tepatnya Makkah (Bakkah) dan bukan Bersyeba.

3. Peristiwa itu terjadi sebelum Ishak lahir dan bukan setelahnya, yaitu ketika Ismail masih bayi.

Mari Kita Analisa

Apakah Ismail dan Hajar dikirim ke padang tandus sebelum ataukah setelah Ishak lahir? Jika kita menerima versi Alkitab, kita akan menemukan sejumlah inkonsistensi dan kontradiksi. Dalam Kejadian 21:14-19, jelas digambarkan bahwa Ismail masih bayi, artinya Ishak belum dilahirkan.

Jika kita melihat Kejadian 16:16, Ibrahim berumur 86 tahun, ketika Hajar melahirkan Ismail baginya. Dan menurut Kejadian 21:5, Ibrahim berumur 100 tahun ketika Ishak lahir. Artinya, Ismail telah berumur 14 tahun ketika Ishak lahir. Menurut Kejadian 21:8-10, peristiwa itu terjadi setelah Ishak disapih. Berarti Ismail telah berumur 16-17 tahun saat itu.

Namun dalam Kejadian 21:14-19, Ismail pastilah anak bayi yang kecil dan bukan remaja berumur 17 tahun. Perhatikan baik-baik ayatnya:

14 Keesokan harinya pagi-pagi, Abraham memberi kepada Hagar makanan dan sebuah kantong kulit berisi air untuk bekal di jalan. Ia meletakkan anak itu pada punggung Hagar, dan menyuruh wanita itu pergi. Lalu berangkatlah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. 15 Ketika air bekalnya habis, Hagar meletakkan anaknya di bawah semak, 16 lalu duduk kira-kira seratus meter dari tempat itu. Katanya dalam hati, “Saya tidak tahan melihat anak saya mati.” Lalu menangislah anak itu.17 Allah mendengar suara Ismael, dan dari langit malaikat Allah berbicara kepada Hagar, katanya, “Apa yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut. Allah telah mendengar suara anakmu. 18 Pergilah kepada anakmu, angkat dan tenangkanlah dia. Aku akan menjadikan keturunannya suatu bangsa yang besar.” 19 Lalu Allah membuat Hagar melihat dengan jelas, sehingga tampak olehnya sebuah sumur. Maka pergilah ia lalu mengisi kantong kulit itu dengan air, kemudian diberinya anaknya minum. 20 Allah menyertai Ismael. Anak itu bertambah besar; ia menetap di padang gurun Paran, dan menjadi pemburu yang mahir. (Kej. 21 Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Ismail pastilah masih bayi saat itu. Tidak mungkin Ibrahim meletakkan Ismail yang remaja ke punggung Hajar. Kemudian dikatakan bahwa Hajar duduk kira-kira seratus meter dari tempat itu. Katanya dalam hati, “Saya tidak tahan melihat anak saya mati.” Lalu menangislah anak itu. Ismail pastilah bayi yang lemah, dan bukannya seorang remaja.
Dikatakan kepada Hajar: “Pergilah kepada anakmu, angkat dan tenangkanlah dia. Aku akan menjadikan keturunannya suatu bangsa yang besar.” Apakah Hajar adalah seorang wanita yang begitu kuat untuk mengangkat Ismail remaja yang sedang menangis? Pastilah Ismail masih bayi saat itu, dan bukan remaja berumur 14-17 tahun.

Dikatakan juga bahwa Hajar mengisi kantong kulit itu dengan air, kemudian diberinya anaknya minum. Remaja yang berbakti tentu akan membawakan air kepada ibunya, dan bukan sebaliknya. Ismail pastilah masih bayi pada saat itu.

Dikatakan juga bahwa Ibrahim meletakkan perbekalan di bahu Hajar. Mengapa Ismail, remaja yang kuat, tidak menawarkan diri untuk membawakan bekal itu? Karena Ismail memang masih bayi saat itu, bukan remaja 17 tahun yang kuat.

Analisa di atas memperlihatkan bahwa Alkitab juga memuat beberapa hal yang benar, namun juga mengandung penambahan dari manusia, penghapusan, pengeditan, dan pengubahan.

Versi Islam dalam hal ini sangat konsisten dari A sampai Z. Ismail adalah seorang bayi, dan Ishak belum dilahirkan ketika peristiwa itu terjadi. Hal ini menjelaskan bahwa kepergian Hajar dan Ismail ke Arab bukanlah atas dikte, egoisme, rasialisme, ataupun kecemburuan Sarah. tetapi atas perintah Tuhan untuk sebuah rencana Ilahiyah.

Tuhan tidak pernah menghapus Ismail dari perjanjian itu. Tuhan tidak membuang Ismail dari garis keturunan Ibrahim. Cerita Sarah yang mengusir Hajar hanyalah cerita fiktif yang ditambahkan orang-orang Yahudi karena kecemburuan dan kesombongan mereka yang merasa sebagai ras terbaik. Akhirnya, batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Tetapi tidak ada yang sulit bagi Tuhan. Kerajaan Allah telah diambil dari bani Israil dan diberikan kepada bani Ismail yang menghasilkan buah Kerajaan itu.

Dan ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam (pemimpin) bagi seluruh manusia”. [QS. Al-Baqarah: 124]

Aku akan memberikan kepadamu keturunan yang banyak dan mereka akan menjadi bangsa yang besar. Aku akan memberkati engkau dan membuat namamu masyhur, sehingga engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan karena engkau, semua bangsa akan memohon kepada-Ku supaya memberkati mereka sebagaimana telah Kuberkati engkau. [Kejadian 12:2-3 BIS]

Ya Allah, berkatilah tuan kami, Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati tuan kami, Ibrahim.

Paulus dan Injil Gnostik

By: David Servetus in Menanggapi Kristen

Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? (Galatia 3:1)

Apakah Paulus menyaksikan Yesus disalib? Apakah Paulus pernah melihat wajah Yesus sebelum ia mengaku telah dipilih Yesus dalam penampakan? Paulus tidak punya pengetahuan yang dapat dipertanggung-jawabkan dalam hal ini. Pengetahuan Paulus atas penyaliban Yesus adalah pengetahuan yang meragukan, karena dia sebenarnya tidak menyaksikan penyaliban Yesus. Dia tidak benar-benar tahu apakah Yesus itu benar disalib atau tidak. Dia hanya mendengar kabar saja bahwa Yesus disalib. Tetapi dia tidak menghiraukan kabar lainnya bahwa Yesus tidak disalib. Siapakah pembawa kabar (injil) yang lain itu? Siapakah yang dituduh telah menipu orang Galatia dengan mengajarkan bahwa Yesus tidak disalib? Para murid Yesus. Para murid Yesus telah mengajarkan ajaran Yesus, yang tentunya berbeda dengan pekabaran yang dibawa Paulus si Farisi dari Tarsus.

Pengetahuan yang bagaimana yang diajarkan Paulus? Pengetahuan yang diajarkan Paulus merupakan pengetahuan gnostik. Di dalam peradaban Yunani, Mesir, dan Romawi Kuno memang terdapat aliran misteri (école de mysterés) yang bertemu pada konteks suatu ilmu tertentu, gnosis, atau pengetahuan rahasia. Anggota dari aliran misteri ini diterima hanya setelah suatu periode kajian yang panjang dan berbagai upacara inisiasi. Di antara aneka aliran ini, yang dianggap paling awal adalah aliran “Osiris” yang didasarkan pada peristiwa seperti kelahiran, masa muda, pertarungan melawan kegelapan, kematian dan kebangkitan dari dewa ini. Tema-tema ini didramatisasi secara ritual di dalam berbagai upacara yang diselenggarakan oleh pendeta. Dengan cara ini berbagai ritual dan simbol yang ditampilkan jauh lebih efektif karena partisipasi aktual. Gnostikisme semacam ini diteruskan oleh Kristen dengan menganggap Yesus sebagai Putera Tuhan yang lahir, bertarung melawan kegelapan dan maut, dan mengalami kebangkitan, layaknya Horus putera Osiris, sang Kristus bangsa Mesir Kuno.

Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. [Kolose 1:25-26]

Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. [Kolose 4:3]

Bagaimanakah bentuk ajaran Paulus itu? Dalam suratnya kepada orang Korintus, Paulus berkata: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” [1Korintus 15:3-4]

Kitab Suci di sini jelas bukan Kitab Suci yang telah umum diketahui orang Yahudi. Kitab Suci di sini adalah Kitab Suci yang menurut Paulus diberikan kepadanya, suatu kitab rahasia yang tersembunyi. Bukan kitab karangan Yesaya, bukan karangan para Nabi. Injil Paulus merupakan Injil yang belum diketahui manusia pada umumnya. Bukan Injil yang manusia lain ajarkan kepadanya karena manusia lain belum ada yang mengetahui Injil tersebut. Injil Paulus bukanlah Injil yang telah diajarkan kepada para murid Yesus.

Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.(Galatia 1:11-12)

Paulus berkata, “Yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.” (Efesus 3:3-7)

Jelaslah bahwa Paulus memegang suatu Injil yang berisi rahasia Kristus (mystery of Christ). Dalam Injil yang dipegang Paulus ada terdapat perkataan, “bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, dikuburkan, dan dibangkitkan, pada hari yang ketiga”. Maka pahamlah kita bahwa Injil yang dipegang Paulus adalah Injil yang berbeda dengan Injil yang diturunkan kepada Yesus. Injil Paulus yang berisi pengajaran gnostik itu mungkin Kitab Suci dari Ordo Salib Mawar Mesir Kuno (AMORC). Suatu Injil gnostik yang menjelaskan tentang Horus Kristus yang lahir, tumbuh dewasa, mati, dan bangkit pada hari yang ketiga. Lalu Paulus menafsirkan bahwa Yesus adalah Kristus yang dimaksudkan oleh Kitab Suci atau Injil yang ia pegang itu.

Remember that Jesus Christ of the seed of David was raised from the dead according to my gospel (Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.) [II Timotius 2:8]

Paulus berkata, “Injilku”. Jelaslah bahwa Injil Paulus adalah Injil yang berbeda dengan Injil yang dipegang para murid Yesus (Hawariyun). Injil Paulus penuh dengan ajaran gnostik Mesir Kuno.

Paulus vs Murid Yesus

By: David Servetus in Menanggapi Kristen & Tauhid Dalam Alkitab

Paham Trinitas hanyalah salah satu paham yang berkembang di masyarakat pada abad-abad awal Masehi. Paham lain yang juga berkembang adalah paham Unitas (Tauhid) yang pada abad keempat dibela oleh Arius dan para pendukungnya. Lalu mengapa Kaisar Konstantin memilih Trinitas? Apakah karena Trinitas itu adalah kebenaran sejati? Melihat latar belakang Kaisar yang pagan, kami tidak heran jika kaisar lebih memilih Trinitas daripada Unitas.

Apakah Unitas baru lahir pada abad keempat? Pada abad keempat, diketahui adanya pertentangan antara pendukung Unitas dan para pendukung Gereja Pauline. Di jalan-jalan, orang ramai mempermasalahkan apakah anak sama dengan Bapa? Jika seseorang bertanya kepada pedagang di pasar berapakah harga barang ini? Dikatakan oleh pedagang, “Bukankah Bapa lebih besar dari anak?” Hal ini adalah kiasan atas betapa meluasnya perdebatan antara pendukung Trinitas dan Unitas saat itu.

Pertentangan ini sudah ada sejak awal berdirinya Gereja Pauline/Kristen. Bukankah Anda mengetahui adanya pertentangan antara Paulus dan 12 murid Yesus? Bahkan Paulus menentang pewaris da’wah Yesus, yaitu Petrus (Matius 16:18; Galatia 2:11). Bahkan Paulus menyebut Barnabas sebagai orang yg mengikuti kemunafikan Yahudi (Galatia 2:13). Paulus melakukan pembunuhan karakter terhadap para penentangnya dengan penilaian subyektif terhadap perbuatan para penentangnya. Mirip sekali dengan tukang gosip yang suka membicarakan orang lain berdasarkan penilaiannya semata atas perbuatan orang yang ia gunjingkan.

Pada saat itu, juga telah berkembang ajaran bahwa Yesus tidak menghapus hukum Taurat, bahkan menggenapkannya. Siapa yang membawa paham dan ajaran seperti ini yang jelas-jelas bertentangan dengan paham yang dibawa Paulus? Tentu saja para murid Yesus yang setia menemani dan mendukung da’wah Yesus. Mereka adalah para murid Yesus yang ditentang dan difitnah oleh Paulus sebagai munafik karena mereka mengajarkan bahwa Yesus tidak disalib, bahwa Yesus tidak menghapus Taurat.

Apakah hanya ada satu pengajaran di zaman itu? Apakah hanya ada satu doktrin di zaman itu? Nyatanya tidak. Saat itu juga telah berkembang paham bahwa Yesus tidak disalib. Telah berkembang pengajaran Yesus yang asli. Tetapi Paulus ingin merebut jemaat 12 murid Yesus dengan berkata: “Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?” (Galatia 3:1)

Apakah Paulus menyaksikan Yesus disalib? Apakah Paulus pernah melihat wajah Yesus sebelum ia mengaku telah dipilih Yesus dalam penampakan? Paulus tidak punya pengetahuan yang dapat dipertanggung-jawabkan dalam hal ini. Pengetahuan Paulus atas penyaliban Yesus adalah pengetahuan yang meragukan, karena dia sebenarnya tidak menyaksikan penyaliban Yesus. Dia tidak benar-benar tahu apakah Yesus itu benar disalib atau tidak. Dia hanya mendengar kabar saja bahwa Yesus disalib. Tetapi dia tidak menghiraukan kabar lainnya bahwa Yesus tidak disalib. Siapakah pembawa kabar (injil) yang lain itu? Siapakah yang dituduh telah menipu orang Galatia dengan mengajarkan bahwa Yesus tidak disalib? Para murid Yesus. Para murid Yesus telah mengajarkan ajaran Yesus, yang tentunya berbeda dengan pekabaran yang dibawa Paulus si Farisi dari Tarsus.

Pekabaran siapa yang Anda pilih, wahai ahli kitab? Pekabaran para murid Yesus, ataukah pekabaran Paulus yang kemudian didukung oleh Kaisar pagan?

Bersabarlah Hingga Berjumpa Aku

By: David Servetus in Chicken Soup for Soul & Kenali Nabimu

Pada Hujjatul Wada’, hajji perpisahan, dimana Rasul saw keluar dari Madinatul Munawwarah pada tanggal 25 Dzulqa’dah tahun 11 Hijriah dalam pendapat lain tahun 10 Hijriah keluarlah beliau bersama para sahabat untuk melakukan Haji. Haji itu disebut Hujjatul Wada (Haji perpisahan) karena itulah haji yang pertama dan haji yang terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Rasul saw keluar pada hari sabtu 25 Dzulqa’dah untuk menuju medan haram, dan beliau saw sampai di Makkah Al-Mukarramah dan melakukan fardhu Haji dan kemudian di medan Arafah beliau berkhutbah didekat Jabalur-Rahmah didengar oleh sedemikian banyak para sahabat. Diriwayatkan jumlah mereka 60 ribu dari para sahabat yang hadir pada hari itu dan Rasul berbicara tanpa pengeras suara, akan tetapi yang paling depan dan paling belakang sama jelasnya mendengar suara beliau saw.

Dari salah satu ucapan beliau saw dalam khutbahnya “Wahai hadirin, aku merasa barangkali aku tidak berjumpa lagi dengan kalian di haji yang akan datang. Bersaksilah bahwa aku sudah menyampaikan risalah ini”. Demikian kejadian Hujjatul Wada, dan Rasul saw kembali dari medan haji ini dan setelah beliau kembali tidak lama beliaupun berziarah ke makam Baqi’. Beberapa bulan kemudian adalah Rabiul Awwal, bulan wafatnya Rasulullah saw saw. Beliau berziarah ke Baqi menziarahi Ahlul Badr. Demikian dijelaskan di dalam Sirrah Ibn Hisyam. Beliau saw mendatangi kuburan Baqi, lantas mengucapkan salam kepada syuhada Badr, saudara-saudara beliau saw yang telah berjuang hingga wafat membela perjuangan Allah dan RasulNya di perang Badr Al Kubra.

Beliau saw mengucapkan salam di pemakaman Badr, lantas di saat itu ada salah seorang sahabat yang melihat Sang Nabi menangis. Setelah itu Rasul berpaling kepadanya seraya berkata “Wahai engkau, telah dipilihkan kepadaku dua pilihan untuk memilih hidup kekal di muka bumi sampai hari kiamat dan juga surga kelak atau aku dalam surga dan bertemu Allah. Dan aku memilih surga dan berjumpa dengan Allah.” Maka berkatalah sahabat itu, “Yaa Rasulullah pilihlah yang pertama agar kau kekal didunia ini.” Rasul berkata, “Aku memilih yang kedua…” Sekembalinya beliau dari ziarah, mulailah beliau ditimpa sakit yang membawa wafatnya.

Tanggal 1 Rabiul Awwal, mulailah sakit beliau saw. Pada tanggal 12 Rabiul Awwal, beliau pun wafat disaksikan oleh para sahabat.

Wafatlah Sang Nabi dan meninggalkan kemuliaan dan warisan agung pada kita, diteruskan oleh para khalifah-khalifah mulia dari mulai Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra, Sayyidina Umar bin Khattab ra, Sayyidina Utsman bin Affan ra, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw dan para pembesar sahabat yang terus membawakan kemuliaan Alqur’an, kemuliaan sunnah dan kemuliaan syariatul Muthaharah (Syariah yg suci). Sampai masa-masa wafat merekapun tetap tersaksikan padanya cinta mereka kepada Allah dan Rasul. Ketika di masa wafatnya Sayyidina Umar ibn Khattab ra, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika beliau sudah ditaruh di atas dipan, maka berkatalah Ibn Abbas ra untuk menenangkan Sayyidina Umar yang sedang menghadapi sakarah, “Wahai Umar, kau telah menjadi sahabat Rasulullah! Kau telah berbakti kepada Rasul dengan sebaik-baiknya bakti dan beliau pun wafat dalam keadaan ridha kepadamu wahai Umar! Lantas kau pun bersahabat dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kau telah berbakti kepadanya sebagai khalifah sampai ia pun wafat dalam keadaan ridha kepadamu wahai Umar! Dan kini engkau di hadapan sakarah. Kami sahabat-sahabatmu telah ridha atas apa yang engkau perbuat, wahai Umar! Kami ridha kepadamu dan kau wafat dalam keadaan ridha dari kami”. Maka berkata Sayyidina Umar bin Khattab “Kalau seandainya keridhaan Rasul itu adalah anugerah Allah kepadaku, demikian pula keridhaan Abu Bakar Ash-Shiddiq itu adalah anugerah Allah kepadaku, tapi kalian?” kata Umar bin Khattab.

Maksudnya apa? Karena mereka masih hidup dan Umar bin Khattab tidak menyaksikan keridhoan mereka saat mereka wafat. “Yang kutakutkan, diantara kalian ada yang mempunyai hak atasku, seandainya aku memiliki gunung emas akan aku bagi-bagikan agar tidak ada satupun yang tidak ridha kepadaku sehingga aku tidak bertemu dengan azabnya Allah.” Demikian hebatnya wafatnya para Khulafaur Rasyidin.

Demikian pula wafatnya Sayyidina Utsman bin Affan ra, yang beliau ini dimusuhi oleh sebagian orang sehingga diblokir rumah beliau sehingga tidak bisa beliau keluar dari rumah. Tidak pula bisa mendapatkan kiriman makanan dan minuman. Maka berkata sahabat lainnya, “Wahai khalifah keluarkan pasukanmu untuk menyingkirkan orang-orang ini yang menghalangimu dari pada makanan dan minuman dan menghalangimu untuk masuk ke masjid!” Utsman bin Affan berkata, “Aku tidak akan menumpahkan darah Muslimin hanya karena satu manusia bernama Utsman bin Affan. Biarkan mereka dan apa yang mereka perbuat.”
Akhirnya Utsman bin Affan ra wafat sebagai syahid ketika Ia membaca Al Qur’an . Ia pun wafat dalam keadaan ditusuk.

Demikian pula wafatnya sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. Demikianlah para pembela Rasul dan para pembela risalah. Sampailah kita di saat ini meni’mati hasil perjuangan mereka. Hasil dari pada perjuangan mereka adalah Al Quran yang sampai kepada kita dan hadits nabawi. Setiap huruf-hurufnya tercetak dengan darah dan pengorbanan mereka.

Rasul telah wafat, Khulafaur Rasyidin, para orang mulia telah wafat, para guru-guru kita banyak yang telah wafat. Tinggallah kita dalam waktu yang dekat akan pula wafat dan kembali. Membawa apa kita akan pergi?

Sang Nabi telah bersabda, diriwayatkan dalam Sahih Bukhari, “Akan kalian lihat setelah aku wafat, hal-hal yang tidak kalian sukai berupa fitnah, musibah, permasalahan. Bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku ditelaga Haudh”. Demikian sabda Nabi Muhammad menenangkan para pencintanya. Menenangkan orang-orang yang selalu ingin bersama Allah dengan mencintai Nabi Muhammad. Beliau menenangkan hati mereka, “kalian akan temukan apa yang tidak kalian sukai setelah aku wafat…., bersabarlah sampai kalian berjumpa denganku di telaga Haudh”.

Kita bermunajat kepada Allah, “Rabbiy, pastikan semua wajah kami berjumpa beliau ditelaga Haudh… Yaa Allah.. Yaa Rahman yaa Rahim, kami mencintai Nabi Muhammad, kami mencintai Abu Bakar Ash-Shiddiq, kami mencintai Umar bin Khatab, kami mencintai Utsman bin Affan, kami mencintai Ali bin Abi Thalib, kami mencintai Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra, kami mencintai Ahlul Badr, kami mencintai Ahlul Uhud, kami mencintai para wali Allah, namun kami tidak mampu mengejar dengan amal-amal kami sebagaimana dasyatnya amal mereka. Maka Rabbiy, pastikan kami bersama mereka karena cinta kami kepada mereka yaa Rabb! Telah tenang jiwa kami ketika melewati musibah dan kesulitan di dunia, kami mendengan kabar dari Sang Nabi: ‘bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku ditelaga Haudh’ Pastikan kami semua yang mendapatkan janji sang Nabi. Rabbiy, kami bersabar sampai kami berjumpa dengan Nabi kami ditelaga Haudh. Kami bersabar atas kerinduan, bersabar atas cinta kami, yaa Rabb, telah Kau halangi mata kami dari memandang wajah Nabi kami, akan tetapi kami disabarkan oleh janji beliau: ‘bersabarlah kalian sampai kalian menjumpai aku ditelaga Haudh’ Yaa Rahman Yaa Rahim pandanglah segala buruknya amal kami, hinanya jiwa kami dari sanubari yang selalu ingkar dari semua yang Engkau ridhai, dan selalu ingin dengan hal-hal yang Engkau murkai. Kepada siapa kami mengadukan hati ini Rabbiy, kalau bukan kepadaMu yaa Rabb? Akan tetapi dalam gelapnya jiwa dan sanubari ini ada kecintaan kepada Sayyidina Muhammad saw, dan amal amal yang shalih. Maka jadikanlah titik terang ini menjadi matahari yang terang dalam jiwa kami, dan jangan wafatkan kami kecuali sebagai ahlus-sujud, sebagai ahlul khusyuk, sebagai ahlut taubah, sebagai ahlul qiyamul-lail. Yaa Rahman yaa Rahim, pastikan wafat kami kelak dalam puncak kemuliaan dan kesempurnaan ibadah, pastikan malam wafat kami atau siang wafat kami di dalam khusnul khatimah. Yaa Rahman yaa Rahim, pastikan kami bangkit di Yaumil qiyamah bersama orang-orang yang kami cintai, dan pastikan kami berjumpa dengan Nabi kami Muhammad saw.”

(Munzir al-Musawa)

Nabiyur Rahmah

By: David Servetus in Kenali Nabimu

Disifatkan di dalam taurat tentang kemuliaan Sang Nabi dari sifat-sifat beliau. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari “Wa laa yadfa’us-sayyi’atu bis-sayyi’ah” Rasul saw itu tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, akan tetapi beliau saw memaafkan dan mengampuni. Inilah budi pekerti manusia yang paling mulia, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, bahkan semakin jahat musuhnya semakin lembut beliau, bahkan semakin keras keinginan Beliau mendoakan mereka dan mengajak kepada keluhuran, “wa laakin ya’fu wayaghfir”, Beliau memaafkan dan mengampuni.

Manusia yang paling pemaaf adalah Nabi Muhammad saw oleh sebab itu dipuji oleh Allah, “Fainnaka la ‘ala khuluqin azhim (Maka sesungguhnya engkau benar-benar berakhlaq agung”. Allah tidak akan mencabut ruh Sang Nabi sampai ia meluruskan agama yang telah disesat dan diselewengkan, sampai mereka mengucapkan dan meyakini Laa ilaaha illallaah, sampai jiwa mereka terang benderang dengan Laa ilaaha illallah, sampai mereka tidak mengakui ada tuhan lain selain Allah.

Terbukalah hati yang tertutup kegelapan dengan kebangkitan Sang Nabi. Terbuka mata yang buta menjadi melihat, telinga yang tuli menjadi mendengar, jiwa yang tertutup menjadi terbuka dengan cahaya hidayah. Bukan berarti orang-orang itu buta matanya, tetapi buta mata-hatinya dari hal yang mulia di sisi Allah. Ia melihat, tetapi tidak mau melihat apa-apa yang dimuliakan Allah. Ia mendengar, tetapi telinganya berat mendengar hal-hal yang mulia disisi Allah. Jiwa yang tertutup akan terbuka dan terbit dengan cahaya kebahagiaan dan kemuliaan dengan kebangkitan Nabi Muhammad saw.

Demikian agungnya sifat Sang Nabi. Mungkin kita malu medengar sifat mulia Sang Nabi ini yang belum mampu kita ikuti. Setidaknya, kita memahami bahwa inilah sosok idola, inilah manusia yang indah yang paling pantas aku cintai, Sayyidina Muhammad saw. Allah munculkan sifat-sifat mulia pada Sang Nabi agar dicintai oleh ummatnya saw, dan kemuliaan ini terwariskan pada jiwa para sahabat ra, pewaris risalah Nabawiyah yang pertama. Kemudian dilanjutkan oleh para penerus risalah dari zaman ke zaman.

Kuil Cinta

By: David Servetus in Chicken Soup for Soul & Mari Raih Kesuksesan

Para Sahabat radhiyallahu’anhum dan para pengikutnya, dan para Shalihin dan Muqarrabien, mereka menginginkan kebersamaan selalu dengan mausia yang paling dekat kepada Allah, yaitu Sayyidina Muhammad saw. Mengapa? Karena mereka merasakan kelezatan saat mereka bersama Nabi Muhammad saw. Mereka merasakan puncak kekhusyuan saat mereka bersama Nabi Muhammad saw dan mereka tidak merasakan kelezatan hidup melebihi saat-saat mereka bersama Rasulullah saw.

Oleh sebab itu sering kita dengar riwayat semacam Sayyidina Tsauban ra yang merasa tidak lagi menginginkan keni’matan surga, tetapi yang diinginkannya adalah bersama Sang Nabi. Hal semacam ini disebabkan mereka merasakan kelezatan saat mereka bersama Nabi Muhammad saw. Kelezatan apa? Tentunya kelezatan berupa dekat kepada Allah, kelezatan khusyu, kelezatan tuma’ninah, ketika mereka memandang wajah Sang Nabi dan ketika mereka bersama Nabi Muhammad saw. Sebagaimana dijelaskan didalam Majmu’ Zawaid dan Musnad Imam Ahmad berkata Sayyidina Abu Hurairah “Yaa Rasulullah idza ra’aynaka raqqat quluubina! (Wahai Rasulullah, ketika kami melihat wajahmu, hati kami terangkat pada puncak kekhusyuan)”

Banyak diantara kita memandang benda, memandang gunung, memandang laut, maka terangkat (muncul) tuma’ninah dan khusyu dalam jiwa, semakin ingat kepada Allah. Apalagi bila memandang Nabi Muhammad saw yang menjadi lambang rahmat Ilahi.

Datanglah seseorang bertanya kepada Sang Nabi “Yaa Rasulullah, kapan datangnya hari kiamat?” Siapa orang ini? Al-Imam Ibn Hajar Asqalani didalam kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan orang yang bertanya ini orang yang membuang air kecil di Masjid Nabawi. Orang yang boleh dikatakan sangat kurang ajar dan minim pemahamannya dan juga imannya, dia bertanya “kapan hari kiamat?” Rasul menjawab dengan pertanyaan “Bukan kapan yang mestinya kau ketahui, tetapi apa yang kau siapkan? Jangan bicarakan kapan hari kiamat karena yang diperlukan adalah persiapanmu, apa yang kau persiapkan?” Ia berkata “La syai..! Tidak ada apa-apa yang kusiapkan,” maksudnya ia beramal hal yang fardhu dan memperbanyak hal yang sunnah semampunya tapi tidak punya satu amal yang ia andalkan, “terkecuali Mahabbatullah wa Rasul.” Yang dia andalkan adalah cinta kepada Allah dan RasulNya Muhammad saw, ini yang menjadi andalannya yang lain tidak diandalkan walaupun dia beramal. “La syai” disini bukan berarti tidak beramal, beramal tetapi dia tidak mengandalkannya. Yang ia andalkan cintanya kepada Allah dan Rasul, maka Rasul menjawab “Engkau bersama dengan orang yang engkau cintai.” Diqabul cintanya kepada Allah dan Rasul, diijabah langsung oleh Rasul saw. Barangkali kalau amalan lainnya belum tentu diijabah oleh Allah, tetapi cinta kepada Sang Nabi langsung dijawab oleh Rasul “Anta ma’a man ahbabta!” Engkau bersama dengan orang yang kau cintai.

Cinta adalah kiblatnya jiwa. Jiwa itu mengarah kepada orang atau siapapun yang ia cintai. Walaupun ia menghadap kiblat, tetapi jiwanya akan mengarah kepada yang ia cintai. Walaupun ia bersujud kepada Allah jiwanya akan bersama dengan orang yang ia cintai. Beruntung orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Berkata Sayyidina Anas ibn Malik ra, “Kami tidak pernah gembira dalam suatu kegembiraan selain mendengar kabar: ‘Kau akan bersama dengan orang yang kau cintai.’ Kabar inilah yang sangat menggembirakan kami, janji dari Sang Nabi.” Dan Sayyidina Anas berkata, “Dan aku mencintai Rasulullah, aku mencintai Nabi Muhammad saw, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka walaupun aku tidak mampu beramal sedahsyat amal mereka.” Ucapan Anas Ibn Malik yang dicantumkan di dalam Shahih Bukhari ini diakui tentunya dan dibenarkan oleh seluruh Muhaddits dan ulama Ahlussunnah wal Jamaah bahwa kecintaan kepada seseorang akan mengantarkannya bersama yang dia cintai kelak di Yaumil Qiyamah. Hadits ini merujuk pada satu makna : Beruntung mereka yang mencintai Nabi Muhammad saw, beruntung dengan keberuntungan dunia dan akhirat bagi mereka yang mencintai Sayyidina Muhammad saw, yang mencintai Rasulullah saw. Sungguh mereka akan bersama Sang Nabi. Begitu pula yang mencintai para shalihin, mereka akan bersama dengan orang yang mereka cintai.

Lihatlah arah jiwamu! Palingkan kepada makhluk yang dicintai Allah! Kepada shalihin, kepada syuhada, terutama Nabi mulia yang paling dicintai Allah, Nabiyuna Muhammad saw.

(majelisrasulullah.org)



Free web hosting Web hosting